Sabtu, 06 Juli 2013

Praktikum KIMDAS II (Reaksi ASAM-BASA)


LAPORAN PRAKTIKUM
KIMA DASAR II
(REAKSI ASAM BASA)




OLEH:
Nama                                 : Yuliana
NIM                                  : 60500112020
Kelompok                         : IV (Empat)
Asisten                              : Sitti Arung
DosenPenanggungJawab  : Sappewali, S.Pd, M.Si





LABORATORIUM KIMIA BIOKIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2013



BAB I
PENDAHULUAN

A.                 Latar Belakang
Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatkan reaksi asam basa basa maka disebut titrasi asam basa, titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatkan pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya (Anonim, 2010, hal: 1).
Titrasi asam basa sering disebut juga disebut dengan titrasi netralisasi. Dalam reaksi itu, menggunakan larutan standar asam dan larutan standar basa. Reaksi netralisasi terjadi antara ion hidrogen sebagai asam dengan ion hidroksida sebagai basa dan membentuk air yang bersifat netral. Berdasarkan konsep lain netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dan penerima proton (basa) (Anonim, 2010, hal: 1).
Titik akhir adalah titik dimana terjadinya perubahan warna pada indicator yang menunjukkan antara zat yang dianalisis (Anonim, 2010, hal: 12). Berdasarkan latar belakang di atas maka dilakukan percobaan ini.

B.                 Tujuan Percobaan
1.      Untuk membedakan antara titik akhir dan titik equivalen titrasi
2.      Untuk menentukan konsentrasi larutan NaOH dengan bahan baku asam oksalat
3.      Untuk menentukan konsentrasi HCl dengan titrasi NaOH.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Pada tahun 1887 S. Arrhenius mengajukan suatu teori yang menyatakan bahwa apabila suatu elektrolit melarut, sebagian dari elektrolit ini terurai menjadi partikel negative yang disebut ion. Teori ini berhasil menjelaskan beberapa hal misalnya elektrolisis dan hantaran elektrolit. Deybe dan Huckel (1923) dan onsager (1927) merevisi teori ion yang telah disajikan Arrhenius. Menurut mereka elektrolit kuat selalu terurai sempurna menjadi ion. Sebelum W. Ostwald dan Arrhenius menjelaskan penguraian elektrolit, orang telah berusaha mendefenisikan asam dan basa. Rasa masam dan pengauh terhadap zat warna tumbuh-tumbuhan, merupakan sifat asam. Sifat yang dimiliki sabun adalah alkali. Akhirnya orang menggunakan istilah basa sebagai pengganti alkali yang sifatnya berlawanan dengan asam. Basa didefenisikan sebagai zat yang dapat bereaksi dengan asam membentuk garam (Achmad, 1996, hal: 97).
            Asam dan basa didefenisikan oleh ahli kimia berabad-abad yang lalu dalam sifat-sifat larutan air mereka. Dalam pengertian ini suatu zat yang larutan airnya berasa asam, memerahkan lakmus biru, bereaksi dengan logam aktif untuk membentuk hidrogen, dan menetralkan basa. Dengan mengikuti pola yang serupa, suatu basa didefenisikan sebagai zat yang larutan airnya berasa pahit, melarutkan lakmus merah trasa licin sabun, dan menetralkan (Achmad, 1996, hal: 97).
            Dalam tahun 1923 J.N Bronsted di Denmark dan T.M Lowry di Inggris secara terpisah menyarankan cara lain dalam memeriksakan asam dan basa. Menurut system ini, asam bronsted-lowry ini adalah donor proton dan basa bronsted-lowry adalah penerima proton. Dengan defenisi ini, beraneka ragam sifat-sifat asam dan reaksi kimia dan saling berhubungan, termasuk reaksi-reaksi yang saling berhubungan, termasuk reaksi-reaksi yang berlangsung dalam pelarut-pelarut selain air maupun tanpa pelarut sama sekali (Keenan, 1997, hal: 410).
            Hubungan antara teori bronsted-lowry dan teori Arrhenius adalah teori Bronsted-Lowry tidak berlawanan dengan teori Arrhenius. Teori Bronsted-Lowry merupakan teori perluasan teori Arrhenius. Ion hidroksida tetap berlaku sabagai basa karena ion hidroksida menerima ion hidrogen dari asam dan membentuk air. Asam menghasilkan ion hidrogen dalam larutan karena asam bereaksi dengan molekul air pemberian sebuah proton pada molekul air. Ketika gas hidrogen klorida dilarutkan dalam air untuk menghasilkan asam hidroksida, molekul hidrogen klorida memberikan sebuah proton (sebuah ion hidrogen) ke molekul air. Ikatan koordinasi (kovalen datif) terbentuk antara satu pasangan mandiri pada oksigen dan hidrogen dari HCl menghasilkan ion hidroksonium, H3O+. ketika asam yang terdapat dalam larutan bereaksi dengan basa yang berfungsi sebagai asam sebenarnya adalah ion hidroksonium. Sebagai contoh, proton ditransfer dari ion hidroksonium ke ion hidroksida untuk mendapatkan air (Anonim, 2010, hal: 5).
            Menurut Achmad (1996), hal: 104, ikhtiar teori Lewis adalah:
1.      Asam adalah penerima (akseptor) pasangan electron
2.      Basa adalah penerima (donor) pasangan electron
3.      Reaksi penetralan, A + :B  --->  A + :B
Pada reaksi penetralan terbentuk ikatan kovalen koordinasi
4.      Teori Lewis dapat juga menjelaskan reaksi tradisional.
H+  + O-H  --> H-O-H
      Bila kuantitas ekuimolar dari suatu asam kuat seperti dalam suatu larutan air, ion hidronium dari asam kuat seperti asam klorida, HCl dan suatu basa kuat seperti natrium hidroksida (NaOH) dicampur dalam suatu larutan air. Reaksi ini dikenal penetralan. Penetralan ion lengkapnya adalah:
            H3O+ + Cl- + Na+ + OH-   -->     Na+ + Cl- + 2H2O
            Atau lebih sederhananya:
            H+ + Cl-  + Na+ + OH-->     Na+  + Cl-  +  H2O
            Persamaan ion nettonya:
            H3O+ + OH-    --->    2H2O
            Atau lebih sederhananya:
H+ + OH-    --->    H2O
Bila spesi asam dan basa bereaksi, dikatakan spesi-spesi ini saling menetralkan (Keenan, 1997, hal: 419).
            Setelah reaksi antara asam klorida dan natrium hidroksida lengkap, tinggallah larutan dari ion Na dan Cl. Meskipun kedua ion penonton ini tidak terlibat dalam penetralan, dapatlah dikatakan bahwa larutan NaCl terbentuk sebagai akibat reaksi asam basa yang dicampur dengan zat-zat yang ada pada saat reaksi itu selesai, tanpa memperhatikan pelarut yang digunakan jika ada. Reaksi antara HCl dan NaOH, baik dalam bentuk murni maupun dalam larutan air (Pudjaatmaka, 1980, hal: 420).
            Sebagai ringkasan, reaksi asam dan basa yang sama kekuatannya, akan menghasilkan larutan netral. Asam dan basa yang bereaksi dapat keduanya kuat maupun keduanya lemah. Reaksi asam dan basa dengan kekuatan yang berlainan akan menghasilkan larutan yang asam lemah atau basa lemah, teragantung pada kekuasaan asam konjugat dan basa konjugat yang dihasilkan. Jika asam yang dihasilkan itu lebih kuat dari pada basa yang dihasilkan, maka diperoleh larutan asam lemah. Sebaliknya jika basa yang dihasilkan lebih kuat dari asam yang dihasilkan, akan diperoleh larutan basa lemah. Terlepas dari kekuatan relative dari asam dan basa yang terlihat, semua reaksi asam dan basa semacam itu lazim dirujuk sebagai reaksi penetralan (Pudjaatmaka, 1980, hal: 421).

BAB III
METODE PERCOBAAN


A.     Waktu dan Tempat
Hari/ Tanggal               : Rabu, 19 Juni 2013
Waktu                          : 11.00 – 13.00 WITA
Tempat                         : Laboratorium Biokimia, Fak. Sains dan Teknologi  UIN Alauddin Makassar.

B.     Alat dan Bahan
1.      Alat
a.       Neraca analitik                                                                1 buah
b.      Buret asam 50 mL                                                          1 buah
c.       Buret basa 25 mL                                                           1 buah
d.      Erlenmeyer 250 mL                                                        2 buah
e.       Pipet skala 25 mL                                                           2 buah
f.       Gelas kimia 500 mL                                                       1 buah
g.       Gelas kimia 250 mL                                                       1 buah
h.      Labu takar 100 mL                                                         1 buah
i.        Statif dan klem                                                               1 buah
j.        Batang pengaduk                                                            1 buah
k.      Bulp                                                                                1 buah
l.        Botol semprot                                                                 1 buah
m.    Pipet tetes 1 mL                                                              1 buah
2.      Bahan
a.       Aquabides (H2O)
b.      Asam klorida (HCl) Xm
c.       Asam oksalat (COOH)2 0,1 M
d.      Indicator phenolpthalin 0,05%
e.       Natrium hidroksida (NaOH) x M
f.       Tissue

C.     Prosedur Kerja
1.      Cara membuat larutan baku primer asam oksalat
a.       Menimbang asam oksalat sebanyak 1,26 gr dengan teliti
b.      Melarutkan dalam air menggunakan gelas kimia 50 mL kemudian mengaduk sampai larut dan memasukkan ke dalam labu takar 100 mL.
c.       Mengimpitkan sampai pada tanda batas kemudian menghomogenkan.
2.      Menentukan konsentrasi larutan NaOH dengan bahan baku asam oksalat
a.       Membilas buret asam dengan asam oksalat kemudian mengisi 50 mL.
b.      Mengisi 2 buah Erlenmeyer 250 mL sebanyak 25 mL larutan NaOH dengan menggunakan pipet skala 25 mL.
c.       Menambahkan 3 tetes indicator phenolpthalin
d.      Mencatat kolom keadaan buret kemudian meneteskan asam oksalat dari buret ke dalam larutan basa sampai terjadi perubahan warna.
e.       Mencatat keadaan akhir buret, jumlah asam oksalat yang dipakai adalah selisih antara keadaan semula dengan keadaan akhir buret.
f.       Menghitung konsentrasi NaOH.
3.      Menentukan konsentrasi HCl dengan titrasi NaOH
a.       Memipet larutan HCl x M sebanyak 25 mL ke dalam 2 buah Erlenmeyer 250 mL.
b.      Memasukkan larutan NaOH yang telah diketahui konsentrasinya ke dalam buret basa 25 mL.
c.       Menambahkan 3 tetes indicator phenolpthalin ke dalam Erlenmeyer yang berisi larutan HCl x M.
d.      Menitrasi HCl dengan menggunakan NaOH sampai muncul warna merah muda
e.       Mencatat volume NaOH yang digunakan pada buret dan menghitung konsentrasi HCl tersebut.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


A.     Hasil Pengamatan
1.      Tabel
Sampel
Volume

Volume
Titik

Titran
Peniter
Rata-rata
akhir
NaOH + (COOH)2
25 mL
25 mL
19 mL
19,6 mL
19,3 mL

19 mL
19,6 mL
HCl+
NaOH
25 mL
25 mL
9,7 mL
10,1 mL
9,9 mL
9,7 mL
10,1 mL

2.      Analisa data
a.       NaOH + (COOH)2
Dik: Ma = 0,1 M
            a = 2
                          Va = 19,3 mL
                          Vb= 25 mL
                             B= 1
                 Dit: Mb = …….?
                        Penyelesaian:
                        a   x Ma  x  Va       = b x    Mb    x  Vb
                        2 x 0,1 M x 19,3 mL = 1 x Mb x 25 mL
                                          3,86 M    = 25 Mb
                                                Mb   = 3,86 M / 25
                                                Mb   = 0,1544 M
b.      NaOH + HCl
Dik: Mb = 0,1544 M
        Vb = 9,9 mL
           b= 1
        Va= 25 mL
          a= 1
Dit: Ma= …?
Penyelesaian:
a    x  Ma   x  Va           =  b   x  Mb   x Vb
1  x Ma x 25 mL          = 1  x  0,1544 M x 9,9 mL
                  25 Ma      = 1,5285 M
                       Ma      = 1,5285 M / 25
                       Ma       = 0,061 M.
3.      Reaksi
a.       2NaOH + (COOH)2  ---->   (COONa)+  2H2O
b.      HCl + NaOH    --->    NaCl  +  H2O

B.     Pembahasan
Titrasi asam basa melibatkan reaksi netralisasi dimana asam akan bereaksi dengan basa dalam jumlah yang equivalen. Titran yang dipakai dalam titrasi asam basa selalu asam kuat atau basa kuat. Pemilihan suatu indicator untuk suatu titrasi asam basa tertentu bergantung pada kuat relative asam dan basa yang digunakan dalam titrasi.
Membuat larutan baku primer asam oksalat, pertama menimbang asam oksalat sebanyak 1,26 gr kemudian melarutkan dengan aquabides dalam gelas kimia 50 mL sampai benar-benar larut kemudian memasukkan ke dalam labu takar 100 mL.
Menentukan konsentrasi larutan NaOH dengan bahan baku asam oksalat, pertama membilas buret dengan asam oksalat  kemudian mengisi 50 mL larutan asam oksalat ke dalam buret asam 50 mL. memasukkan larutan NaOH ke dalam Erlenmeyer 250 mL sebanyak 25 mL kemudian meneteskan 3 tetes indicator pp kemudian menitrasi asam oksalat dari buret ke dalam Erlenmeyer yang berisi larutan NaOH. Fungsi asam okslat yaitu sebagai penitrat yang sebelumnya sudah diketahui konsentrasinya. Fungsi indicator pp yaitu untuk mengetahui titik akhir equivalen dari larutan yang dititrasi. Dari tahap ini dihasilkan konsentrasi larutan NaOH 0,1544 M.
Menentukan konsentrasi HCl dengan titrasi NaOH, pertama yaitu memipet asam klorida (HCl) x M sebanyak 25 mL ke dalam Erlenmeyer 250 mL. Memasukkan larutan NaOH ke dalam buret basa yang telah diketahui konsentrasinya kemudian menitrasi HCl dengan menggunakan NaOH tersebut dan diperoleh konsentrasi HCl yaitu 0,0611.

BAB V
PENUTUP


A.     Kesimpulan
1.      Titik akhir adalah titik dimana terjadi perubahan warna pada indicator yang menunjukkan
2.       reaksi antara zat yang dianalisis. Sedangkan titik equivalen adalah titik dimana terjadi kesetaraan reaksi secara stoikiometri antara zat yang dianalisis.
3.      Konsentrasi larutan NaOH dengan menggunakan bahan baku asam oksalat diperoleh hasil yaitu 0,1544 M.
4.      Konsentrasi HCl dengan titrasi NaOH diperoleh hasil yaitu 0,0611 M.

B.     Saran
Saran untuk praktikum ini yaitu sebaiknya pada percobaan juga menggunakan kalium  hidroksida (KOH) sebagai larutan baku sekunder untuk membandingkan dengan larutan natrium hidroksida (NaOH).

DAFTAR PUSTAKA


Achmad, Hiskia. Kimia Larutan. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1996.
Anonim. Chemistry As a Center of Science. http://www.repository.usu.ac.id
               (16 Juni 2013).
Keenan, dkk. Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga, 1977.
Pudjaatmaka, Aloysius Hadyana. Ilmu Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga, 1980.