Rabu, 31 Juli 2013

Kandungan KIMIA Sirsak (Annona muricata L.) by: Yuliana, Riskayanti dan Asmita



BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Sirsak (Annona muricata L.) merupakan salah jenis tanaman dari familia Annonaceae yang mempunyai manfaat besar bagi kehidupan manusia, yaitu sebagai tanaman buah yang syarat dengan gizi dan merupakan bahan obat tradisional yang memiliki multikhasiat. Dalam industri makanan, sirsak dapat diolah menjadi selai buah dan sari buah, sirup dan dodol sirsak (Jannah, 2010).
Tanaman sirsak banyak digunakan sebagai tanaman obat, karena tanaman ini memiliki khasiat obat dan digunakan sebagai obat dalam penyembuhan maupun pencegahan penyakit. Pengertian berkhasiat obat adalah mengandung zat aktif yang berfungsi mengobati penyakit tertentu atau jika tidak mengandung zat aktif tertentu tapi mengandung efek yang sinergis dari berbagai zat yang berfungsi mengobati (Flora, 2008).
Penggunaan sirsak sebagai obat-obatan sebenarnya bukan merupakan suatu hal yang baru di Indonesia. Secara turun temurun, sirsak telah digunakan oleh sebagian masyarakat Indonesia untuk mengobati beberapa penyakit. Seperti di daerah Sunda buah sirsak muda digunakan untuk obat penurun tekanan darah tinggi dan di Aceh buah sirsak digunakan sebagai obat hepatitis dan daunnya sebagai obat batuk (Mardiana dan Ratnasari, 2011). Selain itu tanaman ini juga digunakan untuk obat ambeien, mencret pada bayi, bisul, sakit pinggang, anyang-anyangan dan sakit kandung air seni serta tanaman ini juga bersifat antibakteri, antiparasit, antipasmodik, antikanker, insektisida, hipotensif, mengobati sakit perut dan mampu mengeluarkan racun (Mangan, 2009).
Kandungan kimia jenis-jenis dari suku Annonaceae terdiri dari dua golongan yaitu non alkaloid dan alkaloid. Golongan non alkaloid yang telah diketahui adalah sukrosa, glukosa, fruktosa yang terdapat pada “pulp” serta gliserides yang dapat menyebabkan kematian pada serangga. Golongan alkaloid yang ditemukan pada tanaman ini meliputi beberapa senyawa dari golongan benzil-tetrahidro-isoquinolin dan salah satunya adalah liriodin yang bersifat antitumor, antibakteri dan antijamur (Laboef dkk., 1982 dalam Rahayu dkk., 1993). Selanjutnya Mangan (2009) menyata-kan kandungan kimia dari sirsak adalah saponin, flavonoid, tanin, kalsium, fosfor, hidrat arang, vitamin (A, B, dan C), fitosterol, Ca-oksalat dan alkaloid murisine.

I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat ditemukan satu rumusan masalah yaitu mekanisme pasti dan jenis bahan aktif antimikroba mana yang sebenarnya berperan utama dalam menghambat pertumbuhan bakteri E. coli?

I.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas diperoleh tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui mekanisme pasti dan jenis bahan aktif antimikroba mana yang sebenarnya berperan utama dalam menghambat pertumbuhan bakteri E. coli.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Tinjauan Tentang Sirsak
Salah satu kandungan kimia sirsak yang berperan penting untuk obat adalah flavonoid. Flavonoid merupakan salah satu metabolit sekunder dan keberadaannya pada daun tanaman dipengaruhi oleh proses fotosintesis sehingga daun muda belum terlalu banyak mengandung flavonoid. Flavonoid merupakan senyawa bahan alam dari golongan fenolik (Markham, 1988 dalam Sjahid 2008).
Manfaat flavonoid dalam tubuh manusia adalah sebagai antioksidan sehingga sangat baik digunakan untuk pencegahan kanker, melindungi struktur sel, meningkatkan efektivitas vitamin C, antiinflamasi, mencegah keropos tulang dan antibiotik. Dalam kebanyakan kasus, flavonoid dapat berperan secara langsung sebagai antibiotik dengan menggangu fungsi organisme seperti bakteri atau virus (Subroto dan Saputro, 2006).
Selain flavonoid, kimia sirsak yang juga dimanfaatkan sebagai obat adalah tanin. Tanin merupakan senyawa metabolit sekunder yang sering ditemukan pada tanaman. Tanin merupakan astrigen, polifenol, berasa pahit, dapat mengikat dan mengendapkan protein serta larut dalam air (terutama air panas). Umumnya tanin digunakan untuk pengobatan penyakit kulit dan sebagai antibakteri, tetapi tanin juga banyak diaplikasikan untuk pengobatan diare, hemostatik (menghentikan pendarahan) dan wasir (Subroto dan Saputro, 2006).
Salah satu bakteri yang sering digunakan dalam menguji efektifitas antimik-roba adalah Escherichia coli. E. coli merupakan kuman oportunis yang banyak ditemukan di dalam usus besar manusia sebagai flora normal. Sifatnya unik karena dapat menyebabkan infeksi primer pada usus, misalnya diare pada anak dan travelers diarrhea, seperti juga kemampuannya menimbulkan infeksi pada jaringan tubuh lain diluar usus. Escherichia coli berbentuk batang pendek (kokobasil), gram negatif, ukurannya 0,4 - 0,7 μm x 1,4 μm, sebagian besar bergerak aktif dan beberapa strain mempunyai kapsul (Syahrurachman dkk.,1994). Escherichia coli dapat menimbulkan pneumonia, endocarditis,infeksi pada luka dan abses pada berbagai organ. Escherichia coli merupakan penyebab utama meningitis pada bayi yang baru lahir dan penyebab infeksi tractus urinarius (Pyelonephritis, Cystisis) pada manusia (Entjang, 2003).
Salah satu bakteri yang sering digunakan dalam menguji efektifitas antimik-roba adalah Escherichia coli. E. coli merupakan kuman oportunis yang banyak ditemukan di dalam usus besar manusia sebagai flora normal. Sifatnya unik karena dapat menyebabkan infeksi primer pada usus, misalnya diare pada anak dan travelers diarrhea, seperti juga kemampuannya menimbulkan infeksi pada jaringan tubuh lain diluar usus. Escherichia coli berbentuk batang pendek (kokobasil), gram negatif, ukurannya 0,4 - 0,7 μm x 1,4 μm, sebagian besar bergerak aktif dan beberapa strain mempunyai kapsul (Syahrurachman dkk.,1994). Escherichia coli dapat menimbulkan pneumonia, endocarditis,infeksi pada luka dan abses pada berbagai organ. Escherichia coli merupakan penyebab utama meningitis pada bayi yang baru lahir dan penyebab infeksi tractus urinarius (Pyelonephritis, Cystisis) pada manusia (Entjang, 2003).
Berdasarkan kandungan kimia yang terdapat dalam daun sirsak dan kemampuan dan sifat bahan tersebut dalam proses pengobatan yang cenderung dilakukan masyarakat, maka diduga daun sirsak memiliki efek antimikroba terhadap bakteri dan berdasarkan dugaan tersebut maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui daya hambat sari daun sirsak (Annona muricata L.) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli serta mengetahui konsentrasi efektif dari sari daun sirsak dalam menghambat pertumbuhan E. coli.
Efektifitas dari senyawa-senyawa antimikroba dapat dipengaruhi oleh bebe-rapa faktor. Adapun faktor yang mempengaruhi efektifitas kerja suatu zat antimikroba menurut Pelczar dan Chan (1988) adalah konsentrasi, lama waktu pemberian, suhu, pH, jenis mikroba dan adanya kimia lain yang bersifat melindungi mikroba.
Mekanisme penghambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh senyawa antimik-roba dapat berlangsung dalam beberapa cara, yaitu 1) Mengganggu pembentukan dinding sel, dengan adanya akumulasi komponen lipofilat yang terdapat pada dinding atau membran sel akan menyebabkan perubahan komposisi penyusun dinding sel. 2) Penghambatan fungsi membran plasma. Beberapa antimikroba merusak permeabilitas membran, akibatnya terjadinya kebocoran materi intraseluler, seperti senyawa phenol yang dapat mengakibatkan lisis sel dan denaturasi protein, serta mengahambat ikatan ATP-ase pada membran sel. 3) Penghambatan sintesa protein, asam nukleat dan aktivitas enzim. Efek senyawa antimikroba dapat menghambat kerja enzim jika senyawa antimikroba mempunyai spesifitas yang sama dengan ikatan kompleks yang menyusun struktur enzim. Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme sel, seperti sintesa protein dan asam nukleat (Katzung, 1989 dan Jawetz dkk., 2007).
II.2 Kandungan Sirsak
a.       Kanduangan Daun
1.      Daun sirsak mengandung tanin, alkaloid, dan sejumlah kandungan kimia lainnya seperti acetogenins, annocatacin, annocatalin, annohexocin, annonacin, annomuricin, anomurine, anonol, gentisic acid caclourine, linoleic acid, gigantetronin dan muricapentocin. Kandungan senyawa kimia tersebut merupakan senyawa yg dapat memberikan manfaat untuk tubuh, baik sebagai obat ataupun meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
2.      daun sirsak mengandung berbagai zat aktif yang berkhasiat untuk pengobatan atau penyembuhan beragam penyakit.  
3.      Daun sirsak memiliki lebar 3-7 cm dan panjang antara 6-18 cm.
4.      Daun yang tua berwarna hijau tua dan yang muda berwarna hijau kekuningan.


b.      Kandungan  Buah
1.      Buah sirsak terdiri dari 4% inti buah , 8.5 % biji buah dan 67.5 % daging buah.
2.      Vitamin yang paling dominan yang terkandung dalam buah sirsak adalah vitamin C.
3.      Buah sirsak banyak mengandung serat pangan (dietary fiber), 3,3 g/ 100 g daging buah.
4.      Buah sirsak mengandung Betacarotene atau Provitamin A.
5.      Buah sirsak mengandung vitamin C 20 mg.
6.      Buah sirsak mengandung folat 14 mg.
7.      Buah sirsak mengandung protein 1 g
8.      Buah sirsak mengandung kalsium 14 mg.
9.      Buah sirsak mengandung magnesium 21 mg.
10.  Buah sirsak mengandung fosfor 27 mg.
11.  Buah sirsak mengandung potasium 278 mg.
12.  Buah sirsak mengandung natrium 14 mg.
13.  Buah sirsak mengandung zat besi 0,6 mg.
14.  Buah sirsak mengandung serat 3 g.
15.  Buah sirsak mengandung gula 13 g.
16.  Buah sirsak mengandung kalori 66 kkal.
c.       Kandungan Biji
1.      Satu buah sirsak mengandung antara 20-200 biji yang saling berdekatan.
2.      Senyawa bioaktif yang terdapat pada biji sirsak adalah senyawa alkaloid yang terdiri dari annonaine dan acetogenins.
3.      Bijih sirsak oleh sebagian masyarakat awam dimanfaatkan sebagai anticacing(vermifuges) dan untuk membunuh kecoa.
4.      Minyak biji sirsak untuk keperluan kosmetika.  Minyak  berfungsi sebagai astringent atau toner perbersih permukaan kulit yang kotor.


         



BAB III
METODE PENELITIAN
III.1 Waktu dan Tempat Penelitiam
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juli 2011 di laboratorium Biologi STKIP PGRI Padang Sumatera Barat. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Masing-masing perlakuan diuji untuk melihat daya hambat sari daun sirsak terhadap pertumbuhan E. coli. Masing-masing perlakuan itu adalah A) Amoxicillin 10 % (kontrol), B) sari daun sirsak 10%, C) sari daun sirsak 20 %, D) sari daun sirsak 30 %, E) sari daun sirsak 40 % dan F) sari daun sirsak 50 %.
III.2 Prosedur Kerja
a.       Pembuatan Suspensi Bakteri E. coli
Biakan murni Escherichia coli diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi Kedokteran UNAND. Suspensi bakteri dibuat dalam tabung reaksi yang berisi NaCl 0,9 % dengan cara menyetarakan kekeruhannya dengan Mc. Farlands 0,5.
b.       Pembuatan Sari Daun Sirsak
Tanaman sirsak yang digunakan adalah varietas asam (zuurzak) dan daun yang digunakan adalah daun muda yang segar sebanyak 100 lembar. Daun-daun dipotong-potong kemudian digerus dengan menggunakan lumpang alu, diperas dan disaring untuk mendapatkan sarinya. Sari daun ini dianggap mempunyai konsentrasi 100 %.
c.        Uji Daya Hambat Sari Daun Sirsak
Suspensi bakteri yang telah sama kekeruhannya dengan Mc. Farland’s 0,5 diinokulasikan pada medium NA. Cakram kertas saring direndam kedalam petridisk yang telah berisi sari daun sirsak dan suspensi amoksilin sehingga membasahi seluruh cakram. Cakram sari daun sirsak dan cakram amoxicillin diletakkan ke dalam medium NA yang telah diinokulasi bakteri E. coli dan diinkubasi 48 jam pada suhu 37O C.
d.       Pengamatan
Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah diameter zona bebas bak-teri. Pengukuran zona dilakukan dengan menggunakan jangka sorong. Jika zona bebas bakteri tidak berbentuk bulat penuh maka diameter didapatkan dengan meng-hitung rata-rata diameternya.
e.        Analisa Data
Data dianalisis dengan uji ANOVA (Analysis Of Variance). Dilakukan ujin uji lanjut dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf α 5 %.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. 1 Hasil
Hasil penelitian daya hambat sari daun sirsak terhadap pertumbuhan bakteri E coli dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji ANOVA menunjukkan hasil berpengaruh nyata pada taraf 5 %. Hasil uji lanjut dengan menggunakan BNT dapat dilihat pada Tabel IV.1 berikut:
Tabel IV.1 Rata-rata Diameter Daerah Bebas Bakteri Escherichia coli Tiap Perlakuan
Konsentrasi
Rata-rata diameter daerah bebas bakteri Escherichia coli (mm)
F = 50 %
9,91 a
D = 30 %
10,40 a
E = 40 %
10,69 a
C = 20 %
12,08 a
B = 10 %
22,19 b
A = Kontrol Amoxicillin 10 %
22,66 b
Ket: Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama, berbeda tidak nyata pada taraf α 5 %.
IV.2 Pembahasan
Menurut uji Beda Nyata Terkecil (BNT) Berdasarkan hasil analisis statistik dapat dilihat bahwa sari daun sirsak memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri E. coli. Adanya kemampuan sari daun sirsak dalam menghambat pertumbuhan E. coli disebabkan karena sari daun sirsak mengandung flavonoid dan tannin (Mangan, 2009) dan senyawa flavonoid dapat berperan secara langsung sebagai antibiotik dengan menggangu fungsi organisme seperti bakteri atau virus (Subroto dan Saputro, 2006) sedangkan tanin umumnya digunakan untuk pengobatan penyakit kulit dan sebagai antibakteri, tetapi tanin juga banyak diaplikasikan untuk pengobatan diare, hemostatik (menghentikan pendarahan) dan wasir (Subroto dan Saputro, 2006).
Dari Tabel IV.1 diatas dapat dilihat diameter zona bebas bakteri pada perlakuan dengan sari daun sirsak sampai konsentrasi tertinggi yang digunakan (9,91 dan 22,19 mm) masih lebih rendah dari amoxicillin (22,66 mm) yang biasa digunakan sebagai antibiotik untuk menanggulangi pengaruh bakteri E. coli. Hal ini menunjukkan bahwa daya hambat dari sari daun sirsak terhadap pertumbuhan E. coli lebih rendah dari amoxicillin. Hal ini mungkin disebabkan karena senyawa aktif sari daun sirsak yang digunakan kurang efektif dari amoxicillin dan amoxicillin juga sudah lama terbukti sebagai antimikroba.
Amoxicillin adalah senyawa penisilin semisintetik dengan aktivitas antibakteri yang bersifat bakterisida, efektif terhadap sebagian besar bakteri gram positif dan beberapa gram negatif yang pathogen dan bekerja melawan bakteri di dalam tubuh (Fahrurizanie, 2009). Rendahnya daya hambat sari daun sirsak, mungkin juga disebabkan karena bahan aktif antimikroba yang terdapat dalam daun sirsak belum sempurna terisolasi melalui cara penggerusan, sehingga pengaruhnya saat diperlakukan tidak terlihat jelas atau rendah. Hal ini disebabkan karena dari semua senyawa aktif yang terdapat dalam daun sirsak, belum diketahui jenis senyawa aktif mana yang sebenarnya berperan sebagai antimikroba, sehingga kita belum bisa mengetahui sifat kimianya, sedangkan sifat kimia tersebut sangat menentukan jenis pelarut dan cara isolasi yang terbaik untuk mendapatkan bahan aktif yang terkandung dalam sel atau jaringan.
Selain belum dapat menentukan jenis pelarut dan cara isolasi terbaik dari bahan aktif, dengan belum diketahuinya jenis senyawa aktif mana yang berpotensi sebagai anti mikroba, maka rendahnya daya hambat sari daun sirsak terhadap pertumbuhan E. coli mungkin juga disebabkan adanya senyawa organik lain terkandung dalam daun sirsak yang melindungi mikroba dari zat anti mikroba. Dasar dari dugaan ini karena salah faktor yang mempengaruhi kerja zat antimikroba adalah adanya bahan organik lain yang menurunkan efektifitas zat aktif atau melindungi mikroorganisme dari zat antimikroba (Pelczar dan Chan, 1988).
Dari Tabel IV.1 dapat dilihat bahwa pengaruh amoxicillin dan sari daun sirsak 10 % berbeda nyata dengan perlakuan sari daun sirsak 20 %, 30 %, 40 % dan 50 %, pengaruh amoxicillin dengan sari daun sirsak 10 % berbeda tidak nyata dan pengaruh sari daun sirsak 20 %, 30 %, 40 % dan 50 % juga berbeda tidak nyata. Hal ini karena konsentrasi yang diberikan pada setiap perlakuan itu berbeda.
Pada perlakuan A (kontrol) yang diberikan amoxicillin zona hambat yang terbentuk jauh lebih besar dibandingkan dengan perlakuan C, D, E dan F karena amoxicillin sudah terbukti sebagai antimikroba. Amoxicillin adalah senyawa penisilin semisintetik dengan aktivitas antibakteri spektrum luas yang bersifat bakterisida, efektif terhadap sebagian besar bakteri gram positif dan beberapa gram negatif yang pathogen dan bekerja melawan bakteri didalam tubuh (Fahrurizanie, 2009).
Dari Tabel IV.1 juga dapat dilihat bahwa mulai dari sari daun sirsak 20 % keatas makin naik konsentrasi daya hambat makin menurun. Kemungkinan pertama yang menyebabkan hal ini adalah perbedaan mekanisme kerja bahan aktif yang terkandung pada tanaman obat. Menurut Pelczar dan Chan (1988) masing-masing bahan aktif antimikroba memiliki mekanisme yang berbeda dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Dalam hal ini dari bahan aktif yang dikandung daun sirsak belum diketahui mana sebenarnya yang berpotensi sebagai anti mikroba dan bagaimana mekanisme masing-masingnya dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Sebagai contoh flavonoid dapat menyebabkan rusaknya susunan dan perubahan mekanisme permeabilitas dari dinding sel bakteri, sedangkan alkaloid diduga dengan cara mengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga dinding sel tidak terbentuk atau tidak terbentuk secara sempurna (Sjahid, 2008).
Kemungkinan yang kedua yaitu sifat kelarutan dari masing-masing bahan aktif yang dikandung daun sirsak. Adapun dalam penelitian ini pelarut yang diguna-kan hanya akuades, sehingga bahan aktif yang akan terlarut dengan baik adalah yang juga larut dalam air, sedangkan dari semua bahan aktif tersebut belum diketahui mana sebenarnya yang berpotensi sebagai antimikroba. Saponin dan tanin bersifat larut dalam air, sedangkan senyawa flavonoid dan alkaloid tidak semuanya bisa larut dalam air.
Flavonoid dari golongan polifenol memiliki sifat kimia senyawa fenol dan bersifat agak asam sehingga mudah larut dalam pelarut basa. Selain itu karena flavonoid memiliki sejumlah gugus hidrosil, maka flavonoid mudah larut dalam air dan pelarut organik polar, seperti etanol, methanol, butanol, aseton dan sebagainya. Begitu juga dengan alkaloid, alkaloid basa tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik kurang polar, seperti kloroform dan eter sedangkan alkaloid garam larut dalam air tetapi tidak larut dalam pelarut organik kurang polar (Anonimus, 2011). Selain itu sifat kelarutan bahan aktif juga akan mempengaruhi kecepatan difusi bahan aktif tersebut pada media agar (Dewi, 2010), Kemungkinan yang ketiga karena daun sirsak yang dipakai adalah daun muda, sedangkan jumlah kandungan bahan aktif tanaman tidak sama pada semua tingkat umur. Menurut Suparjo (2008) kandungan saponin dalam spesies yang sama lebih tinggi pada tanaman muda dibanding dengan tanaman dewasa.
Menurut Markham (1988 dalam Sjahid 2008), bahwa keberadaan flavonoid pada tanaman dipengaruhi oleh proses fotosintesis sehingga daun muda belum banyak mengandung flavonoid. Berdasarkan hal tersebut, diperkirakan komposisi kimia dari sari daun sirsak didominasi oleh saponin dan diantara kedua senyawa tersebut belum diketahui mana yang mempunyai potensi lebih baik sebagai antimikroba.
Daya hambat sari daun sirsak terhadap pertumbuhan E. coli dibanding dengan daya hambat ekstrak daun mengkudu (Harsinta, 2011) jauh lebih tinggi. Adapun ekstrak daun mengkudu dapat menghambat pertumbuhan Escherichia coli pada konsentrasi 15 % - 35 % dan konsentrasi efektifnya pada konsentrasi 35 % dengan zona bebas bakteri 1,12 cm, sedangkan pada sari daun sirsak sudah mampu menghambat pertumbuhan Escherichia coli pada konsentrasi 10 % dengan zona bebas bakteri 22,19 mm dan konsentrasi ini juga merupakan konsentrasi yang efektif karena menunjukkan daya hambat yang paling tinggi dan sudah mendekati daya hambat amoksisilin (22,66 mm). Hal ini menunjukkan bahan aktif dalam sari daun sirsak lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan Escherichia coli.


BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Kesimpulan pada percobaan ini yaitu sari daun sirsak (Annona muricata L.) dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan konsentrasi efektif 10 % dengan luas daerah hambat bakteri sebesar 22,19 mm. Dari uraian diatas, dengan belum diketahuinya mekanisme pasti dan jenis bahan aktif antimikroba mana yang sebenarnya berperan utama dalam menghambat pertumbuhan bakteri E. coli, maka kemungkinan perlu dilakukan ektraksi bahan aktif kasar dan murni yang bisa menjelaskan hal tersebut.
V.2 Kritik dan Saran
Kritik dan saran pada percobaan ini yaitu:
a.       Alat-alat yang digunakan kurang bersih sebaiknya alat-alat yang digunakan dalam percobaan disterilkan terlebih dahulu sebelum digunakan.
b.      Asisten kurang memperhatikan praktikannya sebaiknya asisten mengawasi dan membimbing praktikannya agar tidak terjadi kesalahan pada saat percobaan
c.       Kurangnya perhatian  praktikan terhadap asisten sebaiknya praktikan lebih memperhatikan asisten agar tidak kesulitan pada saat percobaan.
           













DAFTAR PUSTAKA
Alfrits Komansilan, Abdul L. Abadi, Bagyo Yanuwiadi, and David A. Kaligis. http:// International Journal of Engineering & Technology IJET-IJENS Vol: 12 No: 03
Cahyadi, Arief. Kandungan Kimia dan Manfaat Daun Sirsak untuk Kesehatan. http://www.daun sirsak.html. 2013.
Caramanfaat. Daun dan Buah Sirsak. http://www. Daun dan buah sisak.htm. 2013
Gentara, Lukas. Manfaat Buah Sirsak dan Kandungan Nutrisinya. http://www. manfaat-buah-sirsak-dan-kandungan.html. 2013.
Kapsul Daun Sirsak. Kandungan Senyawa Sirsak. http://www. Kandungan Senyawa Sirsak.htm. 2013
Kurnianti, Novik. Kandungan dan Manfaat Sirsak. http://www.daun sirsak.html. 2013.
Kh, Nurul. Buah, Daun, Batang, Akar, Biji dan Bunga Sirsak. http://www. khasiat-buah-daun-batang-akar-biji-dan_8524.html. 2012.

Salman, Kang. Kandungan Gizi Buah Sirsak. http://www. kandungan-gizi-buah-sirsak.html. 2013.
Wanita Indonesia. Manfaat Buah Sirsak dan Kandungan Didalamnya. http://www. manfaat-buah-sirsak-dan-kandungan-di.html. 2012